Oke, sudah hampir 12 jam berlalu dari 24 jam terakhir yang
saya miliki -menurut suku Maya- sebagai penduduk bumi. Kalau boleh
jujur, saya belum rela jika kiamat benar-benar terjadi hari ini. Masih
banyak yang ingin saya capai di hidup ini dan saya belum puas menikmati
hobi baru saya: pergi ke bioskop untuk menonton film-film Indonesia dan
bergumam, “Loh kok, Reza Rahadian lagi?”
Lagi pula, saya heran dengan ramalan kiamat ini. Mari kita bicarakan kedua pihak yang mendukung terjadinya rumor akan kiamat 2012 ini. Kita mulai dari pihak yang pertama: Oknum-oknum yang selalu mencoba meyakinkan kita bahwa ramalan mereka mengenai kiamat di tahun 2012 itu benar adanya.
Dugaan saya, orang-orang ini tidak paham betul konsep meramal dan ramalan.
Bagi saya, hal terbaik yang kita bisa dapat dari keberhasilan suatu ramalan yang kita buat adalah efek yang kita dapat setelah ramalan itu terjadi. Sama seperti jarak tempuh jogging yang sering orang-orang post di media sosial, terbuktinya sebuah ramalan harusnya menjadi sesuatu yang bisa membuat pelakunya mendapat respek dan kesempatan untuk menyombongkan diri di depan semua orang. Apa yang bisa mengalahkan nikmatnya membusungkan dada, menepuknya dengan bangga lalu berkata,
“Benar, kan? gua bilang juga apa?”,
“Nggak percaya sama gua sih lo semua..” ,
atau
“Benar kan, film ini Reza Rahadian lagi?”
Walaupun akting Reza memang terbilang luar biasa sehingga bisa memberikannya lebih dari satu peran sepanjang tahun ini, tapi bukan itu poin saya. Saya masih lebih mengagumi akting Tio Pakusadewo yang sepertinya lebih serba bisa. Tapi hey! Ini juga bukan poin saya. Poin saya adalah, hanya setelah yang diucapkan oleh seorang peramal terbukti benar dan terjadi, barulah seorang peramal bisa mendapatkan kredibilitas untuk dipercaya akan ramalan-ramalan berikutnya.
Apalagi sekarang adalah era media sosial, atau era yang biasa saya sebut dengan era yang mungkin akan membuat para nabi iri setengah mati melihat betapa mudahnya orang-orang yang hidup di jaman ini mengumpulkan pengikut (followers) di Twitter. Dijamin, peramal yang ramalannya terbukti benar, popularitasnya di Twitter bisa melejit lebih cepat dari jeda transisi Aurel Hermansyah putus menuju punya pacar baru. Gurita saja dianggap hebat bisa meramalkan juara piala dunia FIFA, apalagi orang.
Lalu sekarang pertanyaannya, buat apa orang-orang itu meramalkan kiamat? Kalaupun ramalan mereka terjadi, mereka ikut mati, bukan? Apa yang mau disombongkan? Kalau kiamatnya terjadi, apa mereka sempat bangga? Apa ketika gunung-gunung meletus, bumi terbelah, langit runtuh, mereka akan terkenal karena mereka telah memprediksikan ini? Apa akan ada sutradara film yang terinspirasi untuk memfilmkannya? Atau mereka berharap mereka akan mendapat penghargaan dari Bapak Presiden karena berhasil dengan prediksi mereka? Kalau memang iya, saya ingin sekali melihatnya! Saya yakin itu akan menjadi proses pemberian penghargaan paling cepat yang pernah terjadi di negara kita.
Kita lanjutkan ke pihak kedua, yaitu orang-orang yang membuat kesimpulan akan kiamat itu sendiri. Kalian pasti sudah dengar bahwa rumor akan datanganya kiamat di Desember 2012 adalah karena beberapa dari kita menemukan sebuah sistem penanggalan yang dibuat oleh peradaban Maya; di mana tampak bahwa siklus penanggalan itu berhenti di Desember 2012. Menurut saya hebat, ada orang yang bisa ke luar sana dan mencari lalu menemukan sistem penanggalan ini sementara sebagian besar lainnya masih mengeluh karena belum menemukan jodoh… di internet.
Saya punya sebuah teori naif mengenai ini. Pertama, dari yang saya baca, Suku Maya diperkirakan hidup sekitar 5000-an tahun yang lalu. Kedua, “kalender” suku Maya yang kita temukan itu berupa lingkaran pipih batu raksasa dengan penanggalan yang dipahat; dan siklusnya habis di Desember 2012. Ketiga, kita menemukan ini, melihat ini lalu langsung berasumsi bahwa Desember 2012 adalah akhir jaman. Kiamat? Oh ya? Mari berpikir.
Kalender ini BATU. Kalender batu ini BESAR. Dan kalender batu besar ini -jika belum cukup menakjubkan bagi kalian- DIPAHAT. Saya memang tidak tahu preferensi perkerjaan kalian bagaimana, apa yang kalian lakukan saat weekend, apa kalian rutin mengganti celana dalam kalian, dan memang sejujurnya ketiganya bukanlah urusan saya sama sekali. Tapi kalau saya hidup 5000 tahun yang lalu, dan pekerjaan saya adalah pemahat kalender batu, percayalah,
Di satu titik saya akan lelah memahat kalender. Gila apa lo.
“Man, Gua kelar! Cukup! Bodo amat, ini liat ini kalender! Gua udah ngerjain sampe Desember 2012! DESEMBER DUA RIBU DUA BELAS! Ini kalender bisa mereka pakai sampai 5000 tahun!! Apa gunanya juga gua lanjutin? Siapa juga yang masih nginget gua sebagai pemahat kalender ini nantinya? I’ve done my part! Bodo amat gua tinggal ini kalender, gua cari kerjaan lain aja. Kalo sampe tahun 2012 mereka belum juga menemukan cara untuk ngelanjutin ini kalender, then fuck them. Mereka gagal sebagai manusia beradab. Bukan salah gua. Udah ah, makan siang aja yuk.”
Itu, atau bisa jadi pembuatan kalender pada masa itu menjadi begitu monoton karena bikini belum diciptakan dan tidak ada perempuan suku Maya yang mau memakainya lalu berpose seksi di atas kendaraan dan dimanfaatkan untuk jadi kalender.
Suku Maya bukan meramalkan kiamat, kawan. Mereka hanya mengalami downsizing di bagian produksi kalender.
Lagi pula, jika Suku Maya benar bahwa hari ini benar hari terakhir di bumi, Ya sudahlah. Saya berencana untuk keluar rumah dan menghirup udara segar saja. Saya tidak punya keingininan untuk bertahan hidup sebagai last man standing yang mungkin nantinya mampu melakukan re-populasi dunia dengan generasi-generasi baru. Pertama, karena saya tidak punya insting bertahan hidup ditengah bencana, kedua, lupakan re-populasi karena saya tidak punya ovarium.
Jika itu belum cukup sulit, kebutuhan pokok saya sebagai manusia sudah bertambah dari tiga menjadi tujuh: Makanan, air, tissue basah, koneksi internet, colokan, Nutella, dan kafein. Tujuh hal yang agak mustahil dicari jika saya hidup sebagi satu-satunya orang di planet ini. Jika ketujuh kebutuhan pokok saya itu bisa dipastikan sulit terpenuhi, lebih baik sore nanti saya berjalan santai menuju badai atau berenang di lahar dan mengucapkan “dadah!” saja kepada hidup ini.
Semoga saja Tuhan menyambut saya dengan baik dan berkata “Ayo masuk, kamu sudah sampai di surga!” kalau benar itu yang akan terjadi, saya tentunya akan mati dengan senang hati karena saya yakin itu lebih menenangkan dibanding berhasil melewati kiamat, bertahan hidup, namun menghabiskan sisa umur mencemaskan apakah Sabrina akan menyanyikan Gangnam Style versi akustik lewat speaker di setiap sudut mall atau tidak.
Lagi pula, saya heran dengan ramalan kiamat ini. Mari kita bicarakan kedua pihak yang mendukung terjadinya rumor akan kiamat 2012 ini. Kita mulai dari pihak yang pertama: Oknum-oknum yang selalu mencoba meyakinkan kita bahwa ramalan mereka mengenai kiamat di tahun 2012 itu benar adanya.
Dugaan saya, orang-orang ini tidak paham betul konsep meramal dan ramalan.
Bagi saya, hal terbaik yang kita bisa dapat dari keberhasilan suatu ramalan yang kita buat adalah efek yang kita dapat setelah ramalan itu terjadi. Sama seperti jarak tempuh jogging yang sering orang-orang post di media sosial, terbuktinya sebuah ramalan harusnya menjadi sesuatu yang bisa membuat pelakunya mendapat respek dan kesempatan untuk menyombongkan diri di depan semua orang. Apa yang bisa mengalahkan nikmatnya membusungkan dada, menepuknya dengan bangga lalu berkata,
“Benar, kan? gua bilang juga apa?”,
“Nggak percaya sama gua sih lo semua..” ,
atau
“Benar kan, film ini Reza Rahadian lagi?”
Walaupun akting Reza memang terbilang luar biasa sehingga bisa memberikannya lebih dari satu peran sepanjang tahun ini, tapi bukan itu poin saya. Saya masih lebih mengagumi akting Tio Pakusadewo yang sepertinya lebih serba bisa. Tapi hey! Ini juga bukan poin saya. Poin saya adalah, hanya setelah yang diucapkan oleh seorang peramal terbukti benar dan terjadi, barulah seorang peramal bisa mendapatkan kredibilitas untuk dipercaya akan ramalan-ramalan berikutnya.
Apalagi sekarang adalah era media sosial, atau era yang biasa saya sebut dengan era yang mungkin akan membuat para nabi iri setengah mati melihat betapa mudahnya orang-orang yang hidup di jaman ini mengumpulkan pengikut (followers) di Twitter. Dijamin, peramal yang ramalannya terbukti benar, popularitasnya di Twitter bisa melejit lebih cepat dari jeda transisi Aurel Hermansyah putus menuju punya pacar baru. Gurita saja dianggap hebat bisa meramalkan juara piala dunia FIFA, apalagi orang.
Lalu sekarang pertanyaannya, buat apa orang-orang itu meramalkan kiamat? Kalaupun ramalan mereka terjadi, mereka ikut mati, bukan? Apa yang mau disombongkan? Kalau kiamatnya terjadi, apa mereka sempat bangga? Apa ketika gunung-gunung meletus, bumi terbelah, langit runtuh, mereka akan terkenal karena mereka telah memprediksikan ini? Apa akan ada sutradara film yang terinspirasi untuk memfilmkannya? Atau mereka berharap mereka akan mendapat penghargaan dari Bapak Presiden karena berhasil dengan prediksi mereka? Kalau memang iya, saya ingin sekali melihatnya! Saya yakin itu akan menjadi proses pemberian penghargaan paling cepat yang pernah terjadi di negara kita.
Kita lanjutkan ke pihak kedua, yaitu orang-orang yang membuat kesimpulan akan kiamat itu sendiri. Kalian pasti sudah dengar bahwa rumor akan datanganya kiamat di Desember 2012 adalah karena beberapa dari kita menemukan sebuah sistem penanggalan yang dibuat oleh peradaban Maya; di mana tampak bahwa siklus penanggalan itu berhenti di Desember 2012. Menurut saya hebat, ada orang yang bisa ke luar sana dan mencari lalu menemukan sistem penanggalan ini sementara sebagian besar lainnya masih mengeluh karena belum menemukan jodoh… di internet.
Saya punya sebuah teori naif mengenai ini. Pertama, dari yang saya baca, Suku Maya diperkirakan hidup sekitar 5000-an tahun yang lalu. Kedua, “kalender” suku Maya yang kita temukan itu berupa lingkaran pipih batu raksasa dengan penanggalan yang dipahat; dan siklusnya habis di Desember 2012. Ketiga, kita menemukan ini, melihat ini lalu langsung berasumsi bahwa Desember 2012 adalah akhir jaman. Kiamat? Oh ya? Mari berpikir.
Kalender ini BATU. Kalender batu ini BESAR. Dan kalender batu besar ini -jika belum cukup menakjubkan bagi kalian- DIPAHAT. Saya memang tidak tahu preferensi perkerjaan kalian bagaimana, apa yang kalian lakukan saat weekend, apa kalian rutin mengganti celana dalam kalian, dan memang sejujurnya ketiganya bukanlah urusan saya sama sekali. Tapi kalau saya hidup 5000 tahun yang lalu, dan pekerjaan saya adalah pemahat kalender batu, percayalah,
Di satu titik saya akan lelah memahat kalender. Gila apa lo.
“Man, Gua kelar! Cukup! Bodo amat, ini liat ini kalender! Gua udah ngerjain sampe Desember 2012! DESEMBER DUA RIBU DUA BELAS! Ini kalender bisa mereka pakai sampai 5000 tahun!! Apa gunanya juga gua lanjutin? Siapa juga yang masih nginget gua sebagai pemahat kalender ini nantinya? I’ve done my part! Bodo amat gua tinggal ini kalender, gua cari kerjaan lain aja. Kalo sampe tahun 2012 mereka belum juga menemukan cara untuk ngelanjutin ini kalender, then fuck them. Mereka gagal sebagai manusia beradab. Bukan salah gua. Udah ah, makan siang aja yuk.”
Itu, atau bisa jadi pembuatan kalender pada masa itu menjadi begitu monoton karena bikini belum diciptakan dan tidak ada perempuan suku Maya yang mau memakainya lalu berpose seksi di atas kendaraan dan dimanfaatkan untuk jadi kalender.
Suku Maya bukan meramalkan kiamat, kawan. Mereka hanya mengalami downsizing di bagian produksi kalender.
Lagi pula, jika Suku Maya benar bahwa hari ini benar hari terakhir di bumi, Ya sudahlah. Saya berencana untuk keluar rumah dan menghirup udara segar saja. Saya tidak punya keingininan untuk bertahan hidup sebagai last man standing yang mungkin nantinya mampu melakukan re-populasi dunia dengan generasi-generasi baru. Pertama, karena saya tidak punya insting bertahan hidup ditengah bencana, kedua, lupakan re-populasi karena saya tidak punya ovarium.
Jika itu belum cukup sulit, kebutuhan pokok saya sebagai manusia sudah bertambah dari tiga menjadi tujuh: Makanan, air, tissue basah, koneksi internet, colokan, Nutella, dan kafein. Tujuh hal yang agak mustahil dicari jika saya hidup sebagi satu-satunya orang di planet ini. Jika ketujuh kebutuhan pokok saya itu bisa dipastikan sulit terpenuhi, lebih baik sore nanti saya berjalan santai menuju badai atau berenang di lahar dan mengucapkan “dadah!” saja kepada hidup ini.
Semoga saja Tuhan menyambut saya dengan baik dan berkata “Ayo masuk, kamu sudah sampai di surga!” kalau benar itu yang akan terjadi, saya tentunya akan mati dengan senang hati karena saya yakin itu lebih menenangkan dibanding berhasil melewati kiamat, bertahan hidup, namun menghabiskan sisa umur mencemaskan apakah Sabrina akan menyanyikan Gangnam Style versi akustik lewat speaker di setiap sudut mall atau tidak.